Halaman

Kamis, 08 Maret 2012

Kisah ku dengan nya

Awal ku bertemu dengan dia , karna aku melihatnya mirip dengan orang yang aku sayang pada waktu itu. Setelah aku mengakhiri hubungan ku dengan mantan ittu , aku di kenalkan dengan dia. Waktu itu aku baru menginjak kelas satu Sekolah Menengah Pertama dan akan naik ke kelas dua. Dia kakak kelasku. Aku sempat kagum dengan kebisaan dia memainkan alat-alat musik. Untuk dekat dengannya bagiku mimpi, karena banyak yang menyukainya kala itu, apalagi sampai menjadi kekasihnya sangatlah mustahil rasanya.
Hari itu tanggal 14 Mei 2009, hari pertama aku sms dia. Sore harinya aku sengaja datang ke sekolah untuk melihatnya berlatih band yang dinamai “Resleting”. Dia berlatih band untuk persipan acara perpisahan kakak kelas kami. Aku benar-benar bahagia bisa melihatnya, aku sangat berharap kalau dia juga melihatku. Tetapi, dia cuek, dia bahkan tidak mengenaliku. Aku kecewa, tapi tidak apa lah, karena bisa melihatnya saja sudah membuatku bahagia. Setelah hari itu, kami semakin sering berhubungan dengannya, kadang kala ia suka menelfonku. Aku semakin bahagia dengan dia. Aku tidak menyangka, kalau dia juga sering memperhatikan aku. Aku pikkir dia tidak pernah melihatku.
Banyak yang berpendapat aku kembar dengann salah seorang temankku, dan kebetulan kami memang sering bermain bersama. Begitupun dengan dia. Menurutnya, dia sering memanggillku di kantin ,  sewaktu aku dengan temanku itu ada di dekatnya. Tapi yang dia panggil bukan namaku, melainkan nama kembaranku itu. Ya terang saja aku tak menoleh sewaktu ia memanggilku. J Tidak ada yang tidak tau, mengenai aku dan kembarankku itu, kami termasuk orang-orang yang cukup berpengaruh di sekolah tersebut. Aku di panggil nama temanku itu, dan temanku itu di panggil namaku. Sampai-sampai guru pun tak dapat membedakan kami. Dan pada waktu akhir semester satu, ada perombakan kelas. Aku terpisah dengan temanku itu, karena aku dipindahkan ke kelas A, kelas yang menurut guru-ngguru kelas unggulan. Padahal aku merasa sama saja dengan kelas yanng lain.  - -“
Sewaktu pulang sekolah, aku sering melewati sawah di dekat rumahku agar lebih cepat sampai ke rumah. Dan terkadang aku suka diam sebentar menikmati angin sawah disana bersama dengan seorang teman baikku. Suatu ketika dia datang dengan motornya itu bersama seoranng teman dekatnya. Aku hanya dapat memandanginya saja, tanpa berani mengungkapkan sepatah kata pun. Dia datang dan pergi begitu saja di hadapanku. Betapa bahagianya aku bisa bertemu dengannya. Setelah itu, kami libur akhir semester. Selama liburan, aku berharap diajak berlibur dengan dia, tetapi ternyata dia tidak berani untuk bertemu langsung denganku. L
Setelah libur akhir semester, aku dan dia satu gugus untuk Masa Orientasi Siswa baru di sekolah kami itu, karena kami sama-sama anggota OSIS. Entah itu takdir apa disengaja, aku tidak tau, tapi kamii satu kelas. Dari situlah aku mencoba memberanikan diri untuk berbicara langsung dengan dia. Karena selama kurang lebih sau bulan kami berhubungan, kami belum pernah sekalipun untuk berbicara langsung. Aku malu untuk berbicara dengan dia, begitupun dia. Dia berkata, bahwa dia tidak berani dengan lawan jenisnya itu, dia adalah sosok yang pemalu. Hal yang pertama kali aku katakan kepadanya adalah “apa yang dikatakan pak guru tadi, kak?” . Itulah panggilanku untuknya, “kakak”. Karena sewaktu pak guru sedang datang ke gugus kami, gugus A, aku sedang tidak ada di tempat. Mulai dari hari itu, tanggal 6 Juni 2009 kami berani untuk berbicara langsung.
Hubungan kami semakin hari semakin dekat saja. Aku masih ingat, waktu aku dan dia berjalan-jalan. Hari itu hari jumat, dia memakai baju berwarna merah dan memakai motor supra merah. Sewaktu kami smsan, dia sering mengajakku bercanda, bahkan dia memintaku untuk menjadi kekasih hatinya, hal yang benar-benar tidak pernah aku bayangkan. Dan untuk pertama kalinya dia memintaku untuk serius, karena aku sering menganggapnya itu sebuah gurauan saja. Tanggal 13 Agustus 2009 malam, kami meresmikan hubungan kami tersebut. Aku sangat beruntung, karena aku baru tau, bahwa akulah pacar pertama dia. Ternyata selama ini dia juga memendam rasa kepadaku. Sungguh hal yang tidak aku duga-duga.
Sejak hari itu, setiap hari disekolah dia suka memandangi aku. Dan kebetulan juga kelas kami bersebelahan, hanya berjarak satu kelas saja. Dia kelas 9D dan aku kelas 8A. Sampai suatu hari dia  datang ke kelasku untuk megajakku ke kantin, karena waktu itu  jam istirahat. Tentu saja tawaran itu tidak aku sia-siakan. Mulai dari hari itu, aku dengan dia selalu  jalan bersama, kemana pun itu. Semua warga sekolah mengetahui perihal kisah kami ini. Tidak terkecuali guru-guru kami. Terkadang aku dan dia sering disindir oleh guru agama kami, yang orangnya memang cukup menyebalkan. Tetapi itu tidak membuat kami putus asa untuk melanjutkan hubungan kami ini.
Kami memang sering berkelahi, dia suka salah paham terhadapku. Awalnya aku sempat merasa  bosan dengannya. Tapi mengingat usaha yang kulakukan untuk mendapatkan semua ini cukup berat, aku mengurungkan niatku untuk mengakhiri hubungan ini. Dan dia juga mampu membuatku melupakan mantanku, yang dulu aku sayang. Sewaktu hubungan kami baru berjalan beberapa bulan, dia sudah mulai menunjukkan sifat aslinya. Dia sudah berani melarangku, bahkan jika aku tidak mau menurutinya, aku di doakan yang tidak-tidak. Ibuku sempat tau mengenai sifat buruknya dia, tapi aku selalu melindunginya, karena aku sudah sayang padanya. Aku mulai merasa membutuhkan kehadirannya. Cinta yang bersemi diantara kami, yang masih sangat belia.
Awal-awal kami  jalan bersama ke suatu tempat baru, selalu kami catat di handphone kami masing-masing. Tetapi karena kami terlalu sering jalan bersama, kami hanya mencatat hal-hal yang penting saja.
Tanggal 5 November 2009, aku diajak  jalan-jalan ke Senggigi bersama teman-temannya, yang kebetulan aku sudah cukup dekat dengan teman-temannya itu. Aku digonceng dia, aku bersenang-senang dengannya. Dan waktu kami di pantai itu, aku berkata padanya, kalau dulu aku pernah bertemu dia di pantai ini tanggal 6 Maret 2009. Tapi pada waktu itu kami belum saling mengenal, dan memang sudah lama aku sering memperhatikan dia. Aku diajarkan bermain kano dengannya. Tapi aku malah membuatnya cemburu, karena aku malah bercanda-canda dengan temannya, dan aku cuek padanya. Alhasil aku dicburkan ke air, sampai basah kuyup. Padahal aku tidak membawa baju ganti. Jadi aku dipinjamkan bajunya, yang ukurannya tidak terlalu besar untukku. Setelah puas bermain-main di pantai itu, aku, dia dan teman-temannya melanjutkan perjalanan kami ke pusuk. Disana untuk pertama kalinya aku berfoto berdua dengannya. Sungguh saat-saat yang tidak dapat aku lupakan. Perjalanan dari Senggigi melewati Malimbu, adalah  jalan kenangan  kami berdua. Karena kami benar-benar sering melewatinya.
Saat bulan puasa tiba, ia sering datang ke masjid dimana aku sering melakukan shalat tarawih.  Dia selalu ingin menjagaku, dia benar-benar memperlihatkan sayangnya kepadaku. Begitu banyak pengorbanan yang dilakukannya kepadaku untuk membuktikan rasa sayangnya kepadaku. Apapuun yang aku minta selalu diturutinya. Hampir setiap hari ia datang ke rumahku hanya untuk melihatku. Bahkan ia sering hanya sekedar berputar melihat rumahku untuk memastikan bahwa aku ada di rumah. Dia sering mencurigai aku, jikalau aku agak lama membalass sms darinya. Dia benar-benar tidak ingin kehilangan aku.
Di sekolah setiap harinya kami selalu ke kantin bersama, sampai bude (sebutan yang biasa kami pakai untuk memanggil penjual di kantin kami) kantin tau betul perjalanan kisah aku dengan dia. Sewaktu kami sedang ada masalah kami sering menyelesaikannya di kantin. Salah satu bude di kantin angkat bicara mengenai hubungan kami ini. Bude tersebut berkata bahwa cinta kasih dia benar-benar tulus padaku, aku lah wanita pertama yang mengisi hatinya. Dan dia memang mengiyakan perkataan bude itu.
Aku sudah sangat menyayanginya, begitupun dengan dia. Semua hal telah kami lakukan bersama. Hubungan kami sudah seperti hubungan suami istri yang benar-benar tidak muungkin  terpisahkan. Keluarga kami juga sudah mengetahui hubungan kami ini.
Dan kami sudah mendapatkan teman dekat kami berdua. Setiap hari minggu kami selalu berempat di rumah sahabat kami itu. Terkadang  jika kami merasa bosan di rumah itu, kami memutuskan untuk berjalan-jalan berempat. Sewaktu puasa, aku dan temanku (cewek) sedang tidak berpusaa, dia dan pacar temanku rela tengah siang pergi hanya untuk membelikan aku dan temanku nasi saja. Tidak sampai disitu saja pengorbanannya untukku. Dia juga rela meninggalkan cita-citanya demi untuk tetap bersamaku di pulau ini.
Sering kali, setiap pulang sekolah kami berempat ngeband bersama di studio dekat sekolah kami. Setelah selesai, dia rela mengantarku pulang (walau berjalan kaki bersama) tengah siang sampai sawah  dekat rumahku. Dan di sawah itu pula untuk pertama kalinya dia memberiku hadiah, sebuah boneka koala lucu berwarna orange. Di tempat ini pula kami sering menghabiskan waktu bersama. Sampai suatu ketika kami ditegur oleh seseorang agar tidak ‘berpacaran’ disana. J Sewaktu ngeband, kami sering membawakan lagu-lagu yang kebanyakan sekarang menjadi kenyataan.
Salah satu saat yang paling tidak bisa aku lupakan adalah saat sahabatku (cewek) berulang tahun. Dari sekolah kami berjalan ke rumah pacar temanku ini. Sampai di sana, kami menghabiskan waktu bersama dengan pasangan kami sendiri-sendiri. Karena banyak pasangan ada di sana kala itu. Termasuk aku dan dia. Pernah suatu ketika kami berempat berjalan kaki mengantarku pulang dari rumah sahabatku (cewek) tengah siang. Karena saat itu kami berempat belum mempunyai kendaraaan satu-satu. Tapi semua kami lakukan dengan senang hati. Apa pun yang kami lakukan, kami sangat bahagia. Karena kami saling menyayangi.
Saat aku berulang tahun tanggal 12 April 2010, ia memberiku sebuah hadiah kecil yang tentunya ia tau kalau aku menyukai warnanya. Ia memberiku sebuah boneka dolpin berwarna biru putih., ia memberikannya di ruang kelasku. Dia juga tau, kalau aku paling menyukai boneka Tazmania. Ia bersusah payah mengumpulkan uangnya hanya untuk membelikan aku boneka, yang tidak pernah aku memintanya, dan aku tau harganya tidaklah murah untuk ukuran pelajar seperti kami ini.
Pertengahan 2010, hidup kami perlahan beruah menjad lebih baik. Begitu pula dengan sifatnya, yang semakin hari semakin sayang saja padaku. Diawali dari aku yang dibelikan sebuah sepeda motor baru, dan disusul dengan dia yang mempunyai sepeda motor dan sebuah laptop. Dari situ kami mulai sering pergi bersama ke suatu tempat yang biasa disebut “hotspot”. Hampir setiap sore kami berdua selalu pergi untuk menghabiskan waktu bersama. Begitu banyak tempat  kenangan untuk kami berdua.
Dan sudah saatnya untuk dia meniggalkan aku dari sekolah itu, untuk melanjukan ke jenjang yang lebih tinggi. Sebelum sekolah kami merayakan perpisahan untuk siswa  kelas 9, aku dan dia sering berlatih bersama untuk mengisi acara perpisahan itu. Aku berlatih keyboard dan dia berlatih gitar.
 Hari yang ditunggu pun akhirnya datang  juga. Tepat tanggal 24 April 2010 semua siswa kelas 9 bergegas menuju Suranadi, tempat acara perpisahan tersebut digelar. Tapi yang membuat hatiku gundah, guru yang akan membawa aku ke tempat itu tidak menampakan batang hidungnya.  Sampai saatnya semua berangkat, guruku belum datang  juga. L
Disitu aku benar-benar merasa panik, karena khawatir tidak bisa ikut rombongan itu. Dan setelah lama menunggu, jemputan pun datang membawa kami menuju tempat itu. Hatiku lega, namun aku juga masih merasa was-was, karena guru pendampingku tidak datang-datang  juga. Sampai di sana aku tidak segera masuk dan ikut bergabung dengan yang lain. Karena bisa dibillang kehadiran aku dan teman-temanku itu ilegal. Selain kelas 9 saja, tidak diperkenankan untuk mengikuti acara itu. Tapi untung saja guru-guru di sekolah telah mengenaliku. Dan aku diijinkan untuk masuk.
Betapa bahagianya aku hari itu. Dan setiap aku dan dia mendekat, selalu saja guru-guru dan teman-temanku menggangguku. Entah itu memanggilku ataupun mengejekku. J Setelah kami mengikuti bebrapa rangkaian acara, kami diijinkan untuk bermain-main. Aku dan dia serta beberapa teman-temannya memutuskan untuk berkeliling hutan. Karena tempat itu memang sebagian besar adalah hutan.
Benar-benar bernyali sekali kami semua ini. Berani-beraninya menjelajah tempat yang kami  belum pernah datangi. Tapi kami sangat senang dengan semua itu. Karena di antara kami semua rata-rata dengan pasangannya masing-masing, termasuk aku. Tidak terasa kami sudah sampai ke sebuah jalan seetapak di kampung orang, yang kami tidak tau itu tempat apa. Karena kami sudah terlalu jauh, kami memutuskan untuk kembali. Saat kami berjalan di tengah hutan, kami menemukan banyak hal aneh, yang tidak kami pernah lihat sebelumnya. Misalnya saja buah-buahan yang berwarna mencolok, bahkan ada juga yang tidak berwarna, dan tempat duduk yang sudah terlihat tua. Jalur kami kembali ini berbeda dengan jalan kami yang tadi kami lewati. Tapi memang dasar kami “Si Bolang” tau saja jalan untuk kembali. Setelah kami dekat dengan tempat guru-guru kami, kami mendatangi sebuah tempat yang sepertinya sebuah danau.  Di sana kami melihat seekor buaya yang sedang mengintai kami semua. Merasa terancam, kami memutuskan untuk pergi dari sana dan kembal bergabung dengan yang lainnya.
Setelah kami puas berjalan-jalan dan bermain disana, tidak terasa hari sudah sore, waktunya kami untuk kembali ke sekolah kami. Sesampainya di sekolah, aku tidak langsung pulang, melainkan tetap bermain dengan teman-teman kami yang lain. Aku dan dia membeli semangkuk rujak, aku makan bersama dengan dia. Betapa bahagianya aku pada hari itu, sangat memberiku kenangan terindah dalam hidupku. Bagaimana tidak, aku bisa seharian bersama dengan orang yang sangat aku sayang.
Setelah dia lulus dari sekolah itu, dia melanjutkan sekolahnya ke salah satu  sekolah swasta favorit di kota kami ini. Dia memintaku untuk mengikutinya ke sekolah itu. Karena menurutnya, dia tidak ingin kehilangan aku. Saat itu aku bimbang. Karena orang tuaku tidak mengijinkan aku untuk masuk ke sekolah itu. Di saat itu aku berfikir, apakah aku harus memilih dia ataukah orang tuaku ?  Tapi  aku berpendapat, pilihan itu juga masih lama, jadi aku jalani saja hubunganku dengan dia semantara waktu ini.
Awal tahun 2011, hubungan kami semakin erat saja. Kami mulai lebih menampakkan hubungan kami. Kami lebih sering bersama-sama.
Sewaktu ia berulang tahun yang ke-16 tanggal 15 Februari 2011, aku benar-benar merasa bahagia. Karena aku bisa seharian menghabiskan waktu dengannya, dan orangtua kami pun mengetahuinya. Aku di ajaknya ke sebuah tempat pemancingan di daerah Suranadi. Di jalan, kami melihat sebuah pemandangan aneh yang sangat tidak dapat kami percaya itu. Kami melihat sebuah gunung yang biasanya gunung itu tidak pernah ada, namun setelah kami pulang gunung itu telah menghilang.
Di tempat itu kami berada cukup lama. Setelah itu kami disusul dengan kedatangan dua orang teman kami. Aku sangat bahagia bisa bermain-main dengan dia di sana. Hari sudah menjelang sore, kami memutuskan untuk pergi dari situ. Namun tidak lantas kami langsung pulang. Kami berempat ke sebuah tempat dimana kami sering ke sana. Di daerah Tanjung Karang atau yang sering dikenal dengan nama “Lingkar”, tempat anak muda sering menghabiskan waktu bersama dengan teman atau pasangan mereka masing-masing. Aku dan dia duduk-duduk hingga terbenam matahari. Dan kebetulan juga di sana daerah pantai, jadi kami langung bisa melihat matahari terbenam yang sangat indah, apalagi bersama dengan orang yang disayang. Setelah itu barulah ia mengantarku pulang.
  Setiap di pulang sekolah, dia selalu menyempatkan diri untuk menjemputku ke sekolah, yang jaraknya tidaklah dekat dari sekolahnya. Namun jarak yang lumayan jauh tersebut dapat ia tempuh hanya dalam beberapa menit saja, itupun dijalan ia tetap  mengabarkan bagaimana keadaannya. Terkadang aku juga suka marah-marah padanya, hanya saja karena ia lama menjemputku. Bahkan aku pernah meninggalkan dia, dan pulang dengan temanku, yang tentunya membuat hatinya sangat kecewa.
Karena emosinya yang sudah tinggi, hanya karena dai melihat aku dengan pria lain, dia marah besar padaku. Dia memang tidak main tangan kepadaku, namun ia membawaku begitu kencangnya. Sampai pada saat ia sudah mengurangi kecepatannya, aku tidak tau  itu aku sengaja atau bagaimana, aku terjatuh dari motornya itu. Aku tidak sadarkan diri, begitu banyak yang ingin menolongku, namun ia tidak mengijinkannya. Mungkin saja dia merasa bersalah atas sikapnya kepadaku yang telalu keras. Kemudian dia membawaku pulang ke rumahku, yang sebelumnya aku tidak pernah di antar dia tepat di rumahku. Tepat setelah aku masuk kedalam rumahku, hujan besar membasahi bumi. Ibuku panik mengetahui keadaanku ini. Ibuku mencoba menelepon taksi, namun tidak pernah bisa. Ibuku ingin membawaku ke rumah sakit.
Tanpa banyak bicara, dia kemudian meminta ijin pada ibuku untuk pergi mencarikan aku taksi. Padahal saat itu saat hujan besar, dan ia masih mengenakan baju sekolahnya. Untung saja dia mendapatkan taksi terakhir yang ada di depan btn ku itu. Setelah dia datang dengan keadaan basah setelah aku pergi dengan taksi itu menuju rumah sakit, ia akan pulang untuk mengganti bajunya dan beristirahat, tetapi ternyata aku salah. Dia tetap mengikutiku ke rumah sakit. Dia tetap ingin menjagaku dan memastikan kondisiku akan baik-baik saja. Dia mengikutiku kemana pun aku pergi. Begitu perhatiannya dia kepadaku, sampai-sampai ia tidak memperhatikan kondisinya sendiri.
Setelah aku diperiksa dan dipastikan dokter aku tidak terlalu parah, aku lalu diijinkan untuk pulang. Barulah dia lega dan meminta ijin pada orang tuaku untuk pulang, seraya ia berkata untuk kembali menemuiku nanti malam di rumahku.
Malam pun menjelang. Dan ia memang benar menepati janjinya. Ia datang dengan seorang teman baiknya. Ia membawakanku sebungkus sate. Aku masih ingat hari itu hari senin tanggal 24 Februari 2010. Karena aku tidak kuat untuk bangun dan menemaninya di runag tamu, ibuku mengijinkannya untuk masuk ke dalam kamarku berama dengan temannya itu.
Di kamarku itu, aku benar-benar merasakan kasih sayangn ya kepadaku. Di waktu itu ia membelai lembut kepalaku, ia menyuapiku makan, ia meminta maaf atas sikapnya kepadaku tadi siang itu yang mengakibatkan aku jadi begini. Tapi dari lubuk hatiku yang palin dalam, tanpa ia meminta maaf pun, aku sudah memaafkannya. Karena bisa melihatnya bahagia dan tidak marah padaku rasanya sudah lebih dari cukup bagiku.
Hari-hari berikutnya kami jalani dengan lebih baik lagi. Dengan kejadian hari itu dia sudah tidak terlalu keras padaku. Dia sudah berubah menjadi lebih baik lagi. Sekarang dia bisa lebih sabar dengan sikapku padanya yang terkadang memang cukup egois. Aku senang karena itu dia bisa jadi berubah begini, walaupun sebenarnya aku sakit J.
Awal bulan Maret hubugan kami masih baik-baik saja. Awal dari kehancuran itu, saat ibuku membaca sms darinya yang isinya dia mengaktaiku dengan kata-kata kotor dan tidak pantas. Ibukku marah dan menyuruhku untuk tidak berpacaran lagi dengan dia. Saat itu aku benar-benar frustasi. Bayangkan saja, aku harus meninggalkan orang yang sangat aku sayang demi orang yang aku sayang. Atau dengan kata lain aku harus memilih alah satu di antara ibu atau dia.
Hal ini sudah aku bicarakan padanya. Dia sangat sedih dan tidak mau kehilangan aku dan ia berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Tapi apa daya ibuku sudah tidak mengijinkan lagi aku bersamanya. Berbulan-bulan ia memohon padaku untuk tidak berpisah dengannya. Dan tepat pada hari ulang tahunku, untuk yang terakhir kalinya ia datang ke rumahku. Ia memberiku kado terakhir, sebuah sepatu putih yang sangat susah untuk ia dapatkan. Setelah hari itu ia benar-benar tidak pernah ke rumahku lagi sampai hari ini. Dan mungkin selamanya ia tidak akan datang ke sini lagi L
Setelah kurang lebih 2 bulan ia berusaha untuk mengembalikan hunbungan kami seperti dulu, mungkin ia sudah bosan dan sangat lelah. Ia malah balik marah dan menghinaku habis-habisan. Ibuku  sudah sangat murka. Akhirnya pecahlah hubungan baik yang dulu sudah susah payah aku dan dia buat. Ibuku dan ibunya bertengkar karena sikapnya padaku yang sudah sangat tidak baik. Setelah pertengkaran itu, aku mengganti kertuku karena disuru oleh ibuku. Orang yang benar-benar aku sayang kini.
Sesudah kejadian itu handphoneku rusak dan berbulan-bulan baru kembali lagi. Setelah kembali aku melihat masih ada sms darinya yang tersimpan. Aku benar-benar sangat rindu padanya. Karena nomer Hpnya yang dulu sudah aku hapus, aku sudah tidak memiliki  apa-apa tentang dia. Aku mencoba menghubungi dia lagi, aku mencoba sms dia, apakah nomernya yang lama masih dipakai atau tidak. Tetapi nomer itu masih aktif  dan dia membalasnya, walaupun aku mengaku menjadi orang lain. Setelah  kami lama berhubungan yng tentunya aku mengakku menjadi orang lain, dia mengajakku bertemu, karena ia penasaran dengan diriku, yang padahal adalah masa lalunya. Aku bingung saat diajak olehnya, pasti saja aku ditau kalau aku ini berbohong. Lama setelah itu aku tidak pernah berhubungan dengan dia lagi.
Saat tahun baru, ada temanku dan teman dia juga, memberitahuku kalau dia sudah mempunyai pacar yang sudah dia sayang. Aku sedih mendengar berita itu, tapi apa daya inilah kenyataan. Dari situ aku mulai untuk benar-benar melupakan dia untuk selama-lamanya. Tapi sangat sulit untuk melakukan itu. Aku begitu menyayanginya, tapi nasi sudah menjadi bubur. Sudah waktunya untuk aku bangkit dari keterpurukan karena  selalu memikirkan dia.
Dan sampai hari ini, aku belum bisa melupakan dia. Aku hanya bisa untuk tidak memikirkan dia terus, melupakannya sangat sulit. Mungkin sampai kapan pun aku tetap sayang padanya, walaupun dia sudah tidak ingat padaku, aku tetap untuknya.

Aku sayang kamu PRATAMA SAPUTRO WIBOWO  (15 Februari 1995)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar